Ketilang Lagi

Wajah khas pria Indonesia dengan sedikit kumis tipis dan kulit kecoklatan akibat tersengat sinar matahari setiap hari. Berdiri dengat sikap angkuh, mata jelalatan memandang ke perempatan jalan. Terkadang kepalanya menengok ke kekiri atau kekanan dengan pandangan serius memperhatikan satu – persatu para pengguna jalan baik motor maupun mobil. Setelah sekian lama belum muncul juga sesuatu yang di tunggu, dia berjalan kedepan pura – pura mengatur lalu lintas kemudian ketepi jalan lagi supaya di kira dia tidak ada dan berharap ada jagoan kecil yang melanggar rambu – rambu jalan yang kebanyakan terhalang daun pohon.

Pada radius sepuluh kilometer dari perempatan jalan, seorang ibu – ibu keturunan Tionghoa yang sudah bercampur dengan tanah dan air indonesia keluar dari sebuah ruko di pasar dengan membawa jinjingan yang terlihat besar dan berat. Wajahnya penuh dengan keringat yang menandakan isi jinjingan tersebut memang tidak ringan. Dia berjalan dengan cepat untuk ukuran orang yang membawa bawaan berat menuju tempat parkir sepeda motor “Mio” kesayangannya. Sepeda motor matic ini merupakan teman setia yang selalu mengantarkan dia kemanapun dia mau. Setahun yang lalu dia membeli sepeda motor Mio dari uang hasil tabungan yang ia kumpulkan dalam satu tahun, uang hasil berniaga di rumah, sebuah warung kecil yang cukup laris manis tanjung kimpul. Dulu dia hanya naik angkot utuk pergi kepasar, tapi setelah BBM naik terus dan sangat enggan untuk turun walaupun harga minyak dunia turun (kata orang yang pinter kebllinger dan sedang duduk di pemerintahan bilang bahwa harga BBM akan mengikuti harga minyak dunia, kalau naik harga naik kalau turun akan segera di sesuaikan, bukan begitu tho….). Dengan memperhitungkan untung rugi khas pedagang maka akhirnya jatuh pilihan untuk membeli kendaran yang bisa buat untuk membawa barang belanjaannya yang cukup banyak, harga terjangkau dan sedang trend di masa kini, pengoperasian mudah dan tidak ribet dan yang penting mesin jarang rewel. Setelah mencari informasi dari teman-temannya dan dari omongan orang dengan sedikit “jeweran” iklan di segala media maka dia memutuskan untuk membeli motor matic Mio tersebut.

Butuh waktu agak sedikit lama dari biasanya untuk keluar dari tempat parkir di dalam pasar yang entah ada apa hari ini lebih ramai dari biasanya. Dengan kecepatan 50 km/jam dia melaju di jalanan menuju kerumah kesayangannya yang sudah dia tinggalkan sejak ba’da Dzuhur tadi.

Sebuah sepeda motor melaju dengan keceptan tinggi, terkadang ngerem mendadak karena kendaraan didepannya berhenti mendadak. Terkadang sepeda motor bebek Honda tersbut mengelok ke kanan ataupun kekiri untuk menyalip kendaraan yang mendahuluinya dan dengan sedikit nekat menyalip dari kiri. Pengendaranya seorang pemuda kurus wajah khas jawa dengan kulit sawo matang terpanggang panasnya cahaya surya. Matanya tertuju ke jalanan memperhatikan keadaan jalan dan juga kendaraan yang ada di depannya. Dengan pikiran yang sudah mulai resah. resah karena dia harus menuju kerumah sebelum magrib sedangkan tadi dia sempat melihat jam di HP ketika jalan sedang macet, menunjukkan pukul 03:45 menit, sedangkan jaraknya ke rumah masih sekitar 100 km lagi. Pikirannya sudah tidak terlalu fokus pada keadaan jalan membuat dia salah belok, seharusnya dia lurus tetapi malah belok ke kekiri. Lima kilometer dari perempatan Si Pemuda baru sadar kalau dia salah jalan, kemudian dia mencari belokan untuk berbalik arah. lima menit kemudian dia sudah hampir sampai di perempatan jalan yang seharusnya, dia mau belok kekiri.

Di Perempatan jalan tersebut seorang ibu – ibu dengan bawaan belanja banyak dan seorang pemuda kurus terlihat bingung. mereka sepertinya akan berbelok ke kiri tapi dilihatnya tidak ada kendaraan yang berbelok ke kiri hampir semua mengambil arah lurus dan sebagian belok ke kanan. Ibu – Ibu yang membawa belajaan tersebut berbelok ke kiri di ikuti oleh Si Pemuda kurus tersebut.

Dengan wajah mulai menunjukkan kebosanan karena tidak ada kendaraan yang berbelok ke kiri, kearahnya, dua orang polisi yang sedari tadi menunggu di pinggir jalan mulai berjalan ke tepi jalan dengan doa lampu merah segera berganti hijau dan mengharapkan ada yang salah ambil belok. Ketika mereka hendak berjalan ke tepi jalan, tiba – tiba mata polisi yang lebih muda melihat dua kendaran sepeda motor berbelok ke kiri menuju arah dimana dia menenti selama setengah hari itu tanpa hasil. Mata yang lesu dan dahi penuh keringat kini perlahan- lahan mata itu menunjukkan sinarnya dan mulut tersenyum simpul diikuti dengan gerakan tangan yang mengusap keringat di dahi kemudian meluruskan topi yang tadinya agak serong ke kiri. Dengan langkah tegap dan semangat empat llima dia berjalan ke tengah jalanan tanpa mempedulikan kendaraan lain yang lalu lalang. Matanya sudah mengunci mati dua kendaraan sepeda motor, yang satu di kendarai oleh ibu – ibu yang kelihatannya baru pulang dari pasar dan satunya lagi di kendarai oleh pria yang tampak kurus dalam balutan jaket hitam dan helm putih dan dilihat dari cara mengendarai sepeda motor dapat diduga kalau dia masih muda dan terlihat agak bingung.

Dengan memberi tanda untuk berhenti dan menunjukkan ke pinggir jalan terhadap dua kendaraan yang salah belok tadi, Bapak Polisi tadi mengahampiri masing – masing pengendaranya dan menanyakan kelengkapan surat-surat kendaraan dan SIM. Hal setandar yang dilakukan Polisi ketika memberhentikan kendaraan. Ketika SIM dan STNK sudah ditangan tanpa berkata lagi Polisi tersebut berlenggang seperti kerbau berjalan ke dalam warung makan yang belum beroperasi (karena hari ini masih dalam bulan Ramadhan) dan di jadikan sarang buat Polisi tersebut. Dua orang pengendara tersebut akhir tahu juga kalau hal itu merupakan suatu kode dari Polisi agar mereka mengikutinya untuk membicarakan hal-hal penting berkenaan dengan pelanggaran lalu-lintas.

“Anda telah melanggar rambu-rambu lalu lintas. Apa Anda tidak melihat rambu-rambu dilarang belok?”

“Tidak Pak?”

“Ya sudah klo gitu, karena Anda sudah melanggar maka Anda kena tilang dan Anda diharapkan hadir pada SIDANG nanti pada tanggal…. di …., dengan denda 75 ribu, apakah Anda sanggup?”

“Hem….”

“Gimana kalau saya nitip saja, nggak usah ikut sidang, ini ada 50 ribu”

“OK, diterima, haram”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: