Semalaman Di RSUD Karawang

“Assalamu’alaikum Tah…”

“Wa’alaikumussalam Kang. Aya naon Kang?”

“Wah lu gak baca sms gua ya!?”

“Baca sich… cuman gak bisa bales, lagi habis pulsanya. Gimana ma ngabuburitnya, jadi kemana?”

“Wah tau dech, tadi aku di telepon, Engkong gue lagi sakit, sekarang lagi dibawa ke rumah sakit.”

“Ya udah klo gitu gue kesana aja ya, ketempat Kang Acil. Okey”

“Okey”

Hampir jam lima ketika terjadi pembicaraan itu. Aku pun ganti baju yang layak pakai, kemudian melaju dengan santai ke tempat Kang Acil. Sesampainya disana dia sedang dalam persiapan tuk berangkat ke Rumah Sakit. Kang Acil menawarin aku untuk ikut. Aku setuju untuk ikut dan diputuskan dengan mufakaat untuk naik satu motor saja (di rumah ada motor Kang Acil) selain hemat biaya juga bisa lebih cepat.

Dalam perjalanan ke RS kami melewati jalur yang sudah sering kami lewati, ramai sekali suasana sore puasa ini dan memang hampir semua sore di jalan ini pasti rame, “ngabuburit” istilah sundanya atau dulu sekali disebut “jjs” jalan-jalan sore. Banyak sekali anak-anak ABG, Anak Baru Gede dan juga Angkatan Babe Gue yang berseliweran di jalan ini. Ada yang membawa “tentengan” yang berisi minuman dan makanan untuk buka puasa, ada juga yang berpasangan, ada juga yang ber”gerombol” untuk “cuci mata” dan juga ada yang sekedar lewat seperti kami ini. Setelah melalui berbagai pemandangan dan juga kemacetan di jalan akhirnya kami sampai juga di RS dengan selamat tak kurang apa cuman bensin yang berkurang hehehe…….

Keluar dari parkir kendaraan, kami menuju IGD (Instalasi Gawat Darurat). Di IGD terdapat banyak pasien sampai Ruangan yang tidak begitu besar ini penuh dengan ranjang-ranjang pasien dengan berbagai posisi. Dan tak kalah meriahnya kami disambut dengan suara “kemeriahan” rintihan para pasien. Kami celinguan mencari Engkongnya Kang Acil, dan setelah “searching” dengan feeling kami dapatin Engkong Kang Acil sedang rebahan dengan di kelilingin oleh para kerabanya yang mengantar ke RS ini. Engkong Kang Acil “sakit tua” klo orang bilang, mulai dari jantung yang lemah, sakit paru-paru, sakit ginjal dan kroni-kroninya.

Di bagian lain, para saudara yang lain sedang mengurus surat rujukan dari Puskesmas dan juga mengurus jamianan kesehtan untuk rakyat miskin. Untuk surat-surat keterangan dan rujukan dari Puskesmas yang dijadikan dokumen untuk mendapatkan jaminan kesehatan rakyat miskin (JASKESMAS, “Jamianan Sosisal Kesehatan Masyarakat) tidak ada masalah, semua dokumen telah lengkap. Tetapi ada sedikit kerumitan karena datangnya kesorean, maka petugas yang mengesahkan dokumen tersebut (Manajer, orang RSUD bilang) sudah pulan, jadi kami diminta untuk mem-photo copy semua dokumen tersebut sebanyak 20 rangkap. Hal ini di gunakan untuk setiap transaksi (mengambil obat berdasarkan resep dokter, mengambil infus, mendapatkan ruangan dll), huh.. repot amat ya jadi orang miskin….

Nah untuk rungan inap kelas tiga (karena Engkong harus di rawat inap) menurut bagian informasi penuh semua dan kami pada awalnya percaya, tapi setelah ada salah satu kerabat yang mengecek langsung ke ruangan kelas tiga dan ia melihat sendiri kalau di ruang kelas tiga msih banyak yang kosong. Kami-pun segera mengklarifikasikan hal tersebut kepada perawat, dan perawat bilang kalau ruangan-ruangan itu dikelompokkan berdasarkan penyakit yang di derita oleh pasien dan kebetulan ruangan yang sesuai dengan penyakit Engkong penuh. Haahhhh…. begitu tho….. “Kasih duit lebih ja ntar juga langsung dapet ruangan” salah seorang kerabat bilang sambil berbisik. Weks…. begitu tho…. wah-wah jadi kelas tiga itu kelas yang paling tidak dapat perhatian dan cuman sebagai pelengkap untuk suatu bangunan yang disebut RS untuk layak menyandang julukan “RS” (ini menurut salah satu temen aku yang pernah bekerja di RS) dan hal ini terjadi tidak hanya di RS Swasta tatpi juga di RS pemerintah juga. Pantas saja orang miskin yang berobat dengan JASKESMAS tidak terlalu di prioritaskan karena alasan mereka tidak membayar, yang membayarkan negara. Dasar orang-orang berpikiran picik… emang negara dapet uang dari mana? Salah satu yang terbesar pendapatan negara adalah dari PAJAK. Pajak di tarik dari rakyat bukan? Apalagi di negara ini semua kena pajak, kurang lebih separoh lebih dari pendapatan buruh untuk membayar pajak.

Ketika Buruh menerima Upah, upahnya kena pajak, pendapatan dibawah 25jt setahun kena 5%, diatas 25jt kena 10%, wah gede amat pajaknya…. Jadi kalau di pikir-pikir negara itu nggak mau melihat rakyatnya makmur, baru punya penghasilan besar dikit langsung “diembat”. Setelah itu buruh membeli keperluan hidup, juga kena pajak, membeli tanah juga kena pajak, membeli apapun juga kena pajak. Gimana nggak jadi salah satu pendapatan terbesar Negara? Tapi anehnya pajak yang di gembar-gemborkan untuk kemakmuran rakyat kok cuman sedikit sekali ya… dan yang sedikit itu untuk mendapatkanya urusan birokrasinya suuuuuuusaaaaahhhhh……. sekali kayak benerin benang kusut. Seharusnya mereka membuat aturan yang mudah dan juga mudah di mengerti oleh rakyat yang mereka bilang rakyat kecil. Contoh sekarang ini kami kesulitan untuk mendapatkan ruang inap untuk Engkong, padahal kalau memakai uang tunai qo bisa langsung dapet ruangan ya… Oh Indonesiaku…

Waktu berjalan diringin putaran jam detik demi detik terlalui dan menit iktu andil juga dengan tak mau ketinggalan jam ikut pula. Aku dan Kang Acil pergi untuk memphoto copy surat-surat keterangan tersebut setelah kami berbasa-basi sebentar dengan Engkong dan dengan kerabat yang lain, dan yang lain menjaga Engkong sebagian ada yang berbuka puasa. Selama setengah jam kami kembali lagi dengan membawa photo copy-an sebanyak 20 rangkap. Kemudian kami makan nasi karena tadi waktu buka cuman minum air mineral dengan sepotong gorengan. Terasa enak sekali makan kalau sedang lapar, apapun makanannya.

Pada malamnya di ruang IGD ini banyak sekali pasien yang silih bergantian, tadi barusan di bawa masuk pasien korban kecelakaan dengan luka kepala yang tidak begitu parah eh sekarang masuk lagi pasien penderita penyakit tipes. Dengan berbagai tembang kesakitan yang keluar dari mulut mereka para perawat mondar-mandir untuk memeriksa mereka. Para perawat itu kelihatan bekerja keras sekali untuk merawat para pasien tapi entahlah, karena lelah atau jenuh mereka kadang berteriak kecang sekali dan berbicara yang kadang terasa kurang sopan terutama kepada pasien yang membawa JASKESMAS, oh ya nggak boleh berburuk sangka ya…. Astagfirullah. Siapapun pasien yang datang selayak mendapatkan perawatan yang semestinya dengan kesopanan dan wajah ceria sehingga membuat para pasien bersemangat untuk hidup dan cepat sembuh.

Aku berdiri samping Engkong (kursi cuman satu untuk satu ranjang pasien) karena tidak kebagian tempat duduk. Tidak sengaja mataku tertuju pada tempat sampah di ruangan IGD ini, jorok sekali menurut aku. Banyak sekali bekas alat kesehatan yang tidak masuk ke dalam tong sampah yang sudah disediakan, sehingga berceceran kemana-mana. Belum lagi bekas muntahan dan darah pasien yang tidak lekas dipel. Gimana ini.. pikirku, bukankah orang yang bekerja di RSUD ini sebagian besar belajar tentang kesehatan, kenapa masalah kebersihan qo sepertinya tidak mendapatkan perhatian dari mereka ya… Penyakit bersumber dari tempat-tempat yang kotor jadi kalau mau menyembuhkan orang sakit ya semestinya berada di tempat yang bersih jadi kebersihan tempat dan alat seharusnya mendapatkan perhatian juga, bukan?

Ketika sampai malam kami belum juga mendapatkan ruang inap maka diadakan kepekatan mufakat untuk menentukan siapa yang bertugas menjaga malam ini, dan juga siapa yang akanmengurusk ruang inapa pada esok harinya, akhirnya didapatkan keputusan Kang Acil dan tiga kerabatnya dan istri Engkong berjaga malam ini dan akan digantika oleh kerabat lainnya esok hari. Sedangkan untuk ruang inap kalau malam ini ada yang kosong segera pindah dan kalau belum ada juga maka akan diurus besok pagi oleh kerabat lainnya. Keputusan sudah di setujui maka kerabat yang tidak kena tugas berkemas untuk pulang ke rumah.

Kami yang berjaga di RSUD ini bergantian jaga, tapi kenyataannya yang berjaga sampai pagi hanya empat orang saja, sedang dua lainnya langsung tidur sampai pagi ketika para kerabat yang lain pulang…

Pukul 04:30 aku pulang ke rumah, sedangkan Kang Acil tidak ikut pulang karena menunggu kerabat yang lain datang untuk bergantian.

Lelah sekali semalan tidak tidur, sampai di rumah lansung mandi, memakai seragam, berangkat kerja, kerja…

Satu Tanggapan to “Semalaman Di RSUD Karawang”

  1. Prihatin sekali membaca postingan ini, mengingat RSUD Karawang adalah rumah sakit pemerintah terbesar se-Asia Tenggara…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: