Maulid Nabi Apa Boleh diperingati ?

Semenjak aku membaca buku yang berjudul “Ritual Bid’ah Dalam 1 Tahun” (pengarang dan penerbitnya aku lupa), aku menjadi gamang dengan keyakinanku yang menganggap bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW wajib di peringati menjadi pudar, apalagi semenjak aku berlangganan majalah Assunnah yang kebetulan pada salah satu edisinya menjawab pertanyaan seorang pembaca mengenai boleh apa nggak Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati?

Pertanyaan itu pernah juga aku lontarkan kepada seorang yang kuanggap cukup tentang pengetahuan agamanya, dan beberapa menjawab boleh, beberapa menjawab tidak boleh dan ada yang menjawab tergantung keyakinan kita. Aku jadi bingung dan bingung, mana ya yang benar. Setelah beberapa hari aku memikirkan hal ini hati yang semula gamang lama kelamaan menjadi mantap kalau Maulid Nabi memang tidak boleh diperingati. Aku mengambil keputusan ini untuk diriku sendiri dan aku coba beri tahukan kepada beberapa saudara dan teman dekat. Keputusan in aku ambil berdasarkan dari beberapa buku yang aku baca menyebutkan bahwa lebih baik mengambil contoh dalam kehidupan Nabi dan para sahabatnya dalam beribadah, bukan karena mereka (para sahabat) yang paling mulia (karena yang tahu hanya Allah), tapi karena mereka melihat secara langsung bagaimana Nabi Muhammad SAW menjalankan ibadah.

Pada masa Nabi Muhammad masih hidup dan juga pada masa sahabat, tidak pernah sekalipun mereka mengadakan Maulid, padahal mereka dalam kehidupan sehari-harinya selalu mengambil contoh dari Nabi Muhammad SAW. Bagaimana mungkin kita yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW menjalankan hal tidak ada pada masa Beliau dan juga tidak ada pada masa Sahabat.

Dibawah aku ambil dari milis Assunnah http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg06687.html, yang menjelaskan dengan singkat sejarah Maulid Nabi dan menyatakan hukumnya. Semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada hambanya yang selalu berserah diri kepada Allah.

—– Original Message —–
From: “Bintang Is Bintang” <[EMAIL PROTECTED]>
To: <assunnah@yahoogroups.com>
Sent: Saturday, March 04, 2006 5:18 AM
Subject: [assunnah] Tanya : Maulid Nabi Apa Boleh diperingati ?

> Assalamu’alaikum wr, wb
>
> Singkat saja, Kalau hari ultah kita tergolong bid’ah, bagaimana dengan
> Maulidnya Nabi MUhammad SAW ?..
>
> Wassalamu’alaikum.
>

PENCETUS PERTAMA MAULID NABI
Sumber : http://www.salafindo.com/viewartikel.php?ID=77

A. Sejarah Perayaan Maulid

Diantara perayaan-perayaan bid’ah yang diadakan oleh kebanyakan kaum
muslimin adalah perayaan maulid Nabi. Bahkan maulid Nabi ini merupakan induk
dari maulid-maulid yang ada seperti maulid para wali, orang-orang sholeh,
ulang tahun anak kecil dan orang tua. Maulid-maulid ini adalah perayaan yang
telah di kenal oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Dan perayaan ini bukan
hanya ada pada masyarakat kaum muslimin saja tapi sudah di kenal sejak
sebelum datangnya Islam. Dahulu Raja-Raja Mesir (yang bergelar Fir’aun) dan
orang-orang Yunani mengadakan perayaan untuk Tuhan-Tuhan mereka,[1] 1.
Al-Adab Al-Yunaani Al-Qodim…oleh DR Ali Abdul Wahid Al-Wafi hal. 131.
demikian pula dengan agama-agama mereka yang lain.
Lalu perayaan-perayaan ini di warisi oleh orang-orang Kristen, di antara
perayaan-perayaan yang penting bagi mereka adalah perayaan hari kelahiran
Isa al-Masih q, mereka menjadikannya hariaya dan hari libur serta
bersenang-senang. Mereka menyalakan lilin-lilin, membuat makanan-makanan
khusus serta mengadakan hal-hal yang diharamkan.
Kemudian sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada agama Islam ini
menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai hari raya yang diperingati seperti
orang-orang Kristen yang menjadikan hari kelahiran Isa al-Masih sebagai hari
raya mereka. Maka orang-orang tersebut menyerupai orang-orang Kristen dalam
perayaan dan peringatan maulid Nabi yang diadakan setiap tahun.
Dari sinilah asal mula maulid Nabi sebagaimana yang dikatakan oleh
as-Sakhawi : “Apabila orang-orang salib/kristen menjadikan hari kelahiran
Nabi mereka sebagai hari raya maka orang Islam pun lebih dari itu” (at-Tibr
al-Masbuuk Fii Dzaiissuluuk oleh as-Sakhawi)
Inilah teks penyerupaan dengan orang-orang Kristen. Sesungguhnya perayaan
maulid Nabi ini menyerupai orang-orang Kristen, padahal “Barangsiapa yang
menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu” (HR. Abu Daud, Ahmad dan
dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwaul Gholil 5/109.) Dan inilah yang
dikabarkan serta yang dikhawatirkan oleh Nabi: “Sesungguhnya kalian akan
mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sedikit demi sedikit sampai
seandainya mereka masuk kelubang biawak kalian juga akan mengikuti mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

B. Siapa Orang Pertama Yang Mengadakan Maulid Nabi Dalam Sejarah Islam?

Para Ulama yang mengingkari perayaan bid’ah ini telah sepakat, demikian juga
dengan orang-orang yang mendukung acara bid’ah ini bahwa Nabi tidak pernah
merayakan maulidnya dan juga tidak pernah menganjurkan atau memerintahkan
hal ini. Para sahabat beliau, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang
merupakan orang-orang terbaik umat ini serta yang paling bersemangat
mengikuti Sunnah Nabi mereka semuanya tidak pernah merayakan maulid. Tiga
generasi umat Islam yang telah diekomendasi oleh Nabi berlalu dan tidak di
temui pada saat-saat itu perayaan-perayaan maulid ini. Tapi ketika Daulah
Fatimiyyah di Mesir berdiri pada akhir abad keempat muncullah perayaan atau
peringatan maulid Nabi yang pertama dalam sejarah Islam,2 2. Al-A’yad wa
atsaruha alal Muslimin oleh DR. Sulaiman bin Salim As-Suhaimi hal. 285-287.
sebagaimana hal ini dikatakan oleh al-Migrizii 3 3. Dia adalah pendukung
kelompok Ubeid Al-Qoddah (Ubeidyyin). Dia bernama Ahmad bin Ali bin abdul
Qodir bin Muhammad bin Ibrahim al-Husaini al-Ubeidi. Lahir pada tahun 766 H.
dalam kitabnya “Al-Mawa’idz wal i’tibar bidzikri al-Khuthoth wal Aatsar” :
Dahulu para Kholifah/penguasa Fatimiyyin selalu mengadakan perayaan-perayaan
setiap tahunnya, diantaranya adalah perayaan tahun baru, Asy-Syura, Maulid
Nabi, Maulid Ali bin Abi Thalib a, Maulid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah
dll. (Al-Khuthoth 1/490)

C. Kilas Balik Pelopor Pertama Maulid Nabi

Pada tahun 317 H muncul di Maroko sebuah kelompok yang di kenal dengan
Fatimiyyun (pengaku keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib) yang di
pelopori oleh Abu Muhammad Ubeidullah bin Maimun al-Qoddah. Dia adalah
seorang Yahudi yang berprofesi sebagai tukang wenter, dia pura-pura masuk ke
dalam Islam lalu pergi ke Silmiyah negeri Maroko. Kemudian dia mengaku
sebagai keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib dan hal ini pun di
percaya dengan mudah oleh orang-orang di Maroko hingga dia memiliki
kekuasaan.
Ibnu Kholkhon4 4. Dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Kholkhon,
pengikut madzhab Syafi’i. Dia dilahirkan tahun 608 H. Seorang ahli sastra
Arab dan penyair. Beliau meninggal pada tahun 681 H dan disemayamkan di
Damaskus (Pent). berkata tentang nasab Ubeidillah bin Maimun al-Qoddah :
“Semua Ulama sepakat untuk mengingkari silsilah nasab keturunannya dan
mereka semua mengatakan bahwa, semua yang menisbatkan dirinya kepada
Fatimiyyun adalah pendusta. Sesungguhnya mereka itu berasal dari Yahudi dari
Silmiyah negeri Syam dari keturunan al-Qoddah. Ubeidillah binasa pada tahun
322 H, tapi keturunannya yang bernama al-Mu’iz bisa berkuasa di Mesir dan
kekuasan Ubeidiyyun atau Fatimiyyun ini bisa bertahan hingga 2 abad lamanya
hingga mereka dibinasakan oleh Sholahuddin al-Ayubi pada tahun 546 H.” 5 5.
Lihat Firoq Mu’ashiroh oleh DR Gholib Al-‘Awajih 2/493-494.
Perlu diketahui bahwa kelompok Bathiniyah ini memiliki beberapa nama /
sekte. Diantaranya : Nushairiyah, Duruz, Qoromithoh
(Ubeidiyyin/Fathimiyyin), Ibahiyah, Isma’iliyah dll.
Perlu diketahui bahwa Maimun al-Qoddah ini adalah pendiri madzhab/aliran
Bathiniyyah yang didirikan untuk menghancurkan Islam dari dalam. Aqidah
mereka sudah keluar dari Islam bahkan mereka lebih sesat dan lebih berbahaya
dari Yahudi dan Nasrani. Tidak ada yang bisa membuktikan akan hal ini
kecuali sejarah mereka yang bengis dan kejam terhadap kaum muslimin,
diantaranya : pada tahun 317 H ketika mereka telah sangat berkuasa dan bisa
sampai ke Ka’bah mereka membunuh jama’ah haji yang sedang berthowaf pada
hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Mereka jadikan Masjid Haram dan Ka’bah lautan
darah di bawah kepemimpinan dedengkot mereka Abu Thohir al-Janaabi.
Abu Thohir ketika pembantaian ini duduk di atas pintu Ka’bah menyaksikan
pembunuhan terhadap kaum muslimin/jama’ah haji di Masjid Haram dan dibulan
haram/suci. Dia mengatakan : “Akulah Allah, Akulah Allah, Akulah yang
menciptakan dan Akulah yang membinasakan” -Mahasuci Allah dari apa yang ia
katakan -. Tidak ada seorang yang thowaf dan bergantung di Kiswah Ka’bah
melainkan mereka bunuh satu persatu.
Setelah itu mereka buang jasad-jasad tersebut ke sumur zam-zam. Dan mereka
cungkil pintu Ka’bah dan mereka sobek kiswah Ka’bah serta mereka ambil hajar
aswad dengan paksa. Pemimpin mereka (Abu Thohir) ketika melakukan hal
tersebut dia mengatakan : “Dimana itu burung (Ababil), mana itu batu-batu
yang (di buat melempar Abrahah)???” Mereka menyimpan hajar aswad di Mesir
selama 22 tahun.6 6. Lihat Bidayah wan Nihayah hal. 160-161 oleh Ibnu
Katsir. Ini adalah gambaran singkat kekufuran Bathiniyyah

D. Bagaimana Pendapat Ulama Tentang Kelompok Bathiniyyah (Fatimiyyun)???

Imam Abdul Qohir al-Baghdady (meninggal tahun 429 H) v berkata : “Madzhab
Bathiniyyah bukan dari Islam, tapi dia dari kelompok Majusi (penyembah
api)7. 7. Al-Farqu bainal Firoq oleh al-Baghdady hal. 22 Beliau juga berkata
: “Ketahuilah bahwa bahayanya Bathiniyyah ini terhadap kaum muslimin lebih
besar dari pada bahayanya Yahudi, Nasrani, Majusi serta dari semua orang
kafir bahkan lebih dahsyat dari bahayanya Dajjal yang akan muncul di akhir
zaman.” 8 8. Ibid hal.282
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v mengatakan : “Sesungguhnya Bathiniyyah itu
orang yang paling fasik dan kafir. Barangsiapa yang mengira bahwa mereka itu
orang yang beriman dan bertakwa serta membenarkan silsilah nasab mereka
(pengakuan mereka dari keturunan ahli bait/Ali bin Abi Tholib,-pent) maka
orang tersebut telah bersaksi tanpa ilmu. Allah berfirman :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan
tentangnya” (QS. Al-Isra: 36)
Dan Allah berfirman :
“Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedang dia mengetahui”
(QS.Az-Zukhruf : 86)
Para Ulama telah sepakat bahwa mereka adalah orang-orang zindik dan munafik.
Mereka menampakkan ke-Islaman dan menyembunyikan kekufuran. Para Ulama juga
sepakat bahwa pengakuan nasab mereka dari silsilah ahlul bait tidaklah
benar. Para Ulama juga mengatakan bahwa mereka itu berasal dari keturunan
Majusi dan Yahudi. Hal ini sudah tidak asing lagi bagi Ulama dari setiap
madzhab baik Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, maupun Hanabilah serta ahli
hadits, ahli kalam, pakar nasab dll (Majmu Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah 35/120-132)

Kesimpulan :

Jadi pelopor bid’ah maulid Nabi adalah kelompok Bathiniyyah 9 9. Ini
pendapat yang kuat. Adapun yang mengatakan bahwa maulid tersebut dimulai
tahun 604 H oleh Malik Mudoffar Abu Sa’id Kukburi maka ini tidak menafikan
hal diatas karena awal maulid tahun 604 H ini di Mushil saja, adapun secara
mutlak maka Bathiniyyahlah pencetus pertama Maulid Nabi didunia, khususnya
di Mesir. (Lihat kitab “Al-Bida’ Al-Hauliyah” dan “Al-A’yad wa Atsaruha).
yang mereka mempunyai cita-cita untuk merubah agama Islam ini dan memasukkan
hal-hal yang bukan dari agama agar menjauhkan kaum muslimin dari agama yang
benar ini. Menyibukkan manusia dari bid’ah (perayaan-perayaan bid’ah seperti
maulid) adalah salah satu jalan yang mudah untuk mematikan Sunnah Nabi dan
menjauhkan manusia dari syari’at Allah. 10 10 “Al-Bida’ Al-Hauliyah” Hal.
145, oleh Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwaijiry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: