Perayaan Koperasi Di “Dewi Air”

Hari ini koperasi mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) sekaligus pembubaran pengurus periode 2005-2008 dan juga pembentukan pegurus baru untuk periode 2008-2010. Acara pelaksanaan RAT kali ini terhitung sukses dan membawa kabar gembira karena kali ini koperasi dapat meningkatkan keuntungan menjadi dua kali lipat dari tahun kemarin. Selain kesuksesan juga membawa kegembiraan bagi anggota karena para anggota mendapatkan pembagian SHU (Sisa Hasil Usaha) yang cukup besar.

Selain hal tersebut diatas, para pengurus yang baru terbentuk membawa amanat yang berat, diantaranya adalah bagaimana caranya menungkatkan SHU di tahun depan dengan menurunkan suku bunga pinjaman dan juga penurunan penambahan nilai barang dari 10% harga barang menjadi 5% harga barang. Padahal selama ini, kedua hal tersebut turut memberikan andil yang besar pada kenaikan SHU.

Acara RAT tersebut dilaksanakan di ruang auditorium perusahaan. Karena acara berjalan lancar maka acara tersebut selesai tepat waktu yaitu pada pukul 17:00 WIB. Setelah acara selesasi masih ada satu acara lagi yaitu acara perayaan pembentukan pengurus baru dan juga acara perpisahan bagi pengurus lama yang tidak terpilih lagi dan juga sebagai acara terimakasih kepada para anggota yang diwakilkan kepada para pleno. Acara perayaan tersebut dilaksanakan di rumah makan dan karaoke “Dewi Air” di Karawang. Aku berangkat dari pabrik ke tempat acara dengan menaiki bus jemputan yang disediakan oleh panitia. Setelah 25 menit aku dan para anggota pleno yang lain sampai di tempat tujuan. Tidak semua menaiki bus jemputan karena sebagian ada yang membawa kendaraan sendiri.

Begitu turun dari bus aku langsung masuk dan mencari tempat duduk yang enak. Tapi ternyata tempat duduk yang enak sudah penuh oleh para anggota yang lain. Setelah mencari-cari akhirnya aku temukan tempat yang enak baik pemandangan maupun posisinya. Dari tempat aku duduk aku dapat melihat pemandangan yang menyegarkan mata, didepan terhampar sawah yang cukup luas dengan diselingi sawah yang seperti rawa karena belum ditanamin padi. Mataku menyapu dan menikmati setiap kehijaun yang diciptakan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.

Tiba-tiba aku tersentak dengan pemandangan yang menampakkan kekontrasannya dengan keadaan di sekeliling aku. Disini begitu nyaman, dalam ruangan yang bersih dan sejuk yang diakibatkan dari hembusan udara AC (Air Conditioner) dengan makanan dan minuman yang menyegarkan tenggorokan dan yang menggoyang lidah. Sedang ditempat yang membuat aku tersentak tadi terlihat pemukiman penduduk lokal (kampung) yang terlihat kumuh (khas kampung) dengan rumah-rumah sederhana dari anyaman bambu dan sebagian rumah sudah permanen tapi menampakkan kelusuhannya akibat kurang terawat. Aku dapat melihat jelas hal tersebut dari tempat aku duduk. Kemudian perasaanku mulai berandai-andai, seandainya aku berada disana dengan melihat kearah tempat aku duduk maka akupun akan dapat melihat jelas.

Bagaimana jika ketika aku melihat aku sedang dalam kekurangan dan kurang makan. Bagaimanakah perasanku ketika lapar melihat begitu banyak orang makan makanan yang juga begitu banyak dan enak bahkan banyak sekali makanan yang tidak dimakan sampai habis dan dihambur-hamburkan. Sedangkan ketika itu untuk makan sebiji nasi kami harus berebutan dengan ayam. Bagaimanakah perasaanku jika mengalami hal tersebut. Ingin aku menangis tapi aku tahan, aku hanya bisa menagis dalam hati karena sampai saat ini aku belum mampu untuk membantu orang-orang miskin yang begitu banyak di negeri ini. Ya Allah berilah hambamu ini rasa syukur yang tidak ada habisnya atas segala nikmat dan karunia yang Engkau berikan kepada kami, walau kami belum termasuk orang yang mampu tappi Engkau masih memberikan kami kesempatan untuk menikmati karunia-Mu.

Sambil menikmati makanan dan minuman yang lezat, sebagian anggota ada yang bernyanyi. Dengan suara keras mereka melantunkan syair-syair yang terpampang pada layar TV walau sebenarnya suaranya cempreng dan fals, tidak kami pedullikan karena perasaan kami sedang senang.. Benar kata pepatah, bila orang sedang senang, tanah liat pun terasa coklat.

Lagi-lagi hatiku tersyat bila aku melihat keadaan kampung tersebut. Mungkinkah orang-orang disana pada kecukupan makanan ataukah mereka sudah berpuasa. Sedangkan kami disini dengan senda gurau dan bernyanyi ditemani makanan dan minuman yang lezat. Mungkin disana mereka berpuasa dengan alunan musik orkesatra perut, kruyuk…. kruyuk… kruyuk… dan nyanyian anak-anak, Mak laper Mak… Aku jadi berpikir, pantaskah perayaan ini, baikkah perayaan ini. Jika tidak pantas dan tidak baik maka kami harus bagaimana meryakan perayaan ini.

Ketika aku masih sekolah dulu, aku punya sahabat yang punya cara unik dalam melakukan perayaan. Setiap dia mendapatkan kelebihan uang atau utung besar dalam berdagang, dia selalu mengundang anak-anak yatim piatu dan para tetangga untuk makan bersama. Dia bilang kalau dia akan sangat bahagia bila harta yang ditipkan oleh Allah dapat bermanfaat bagi orang lain.

Tak terasa waktu berlalu dan memang setiap kita senang waktu selalu terasa berlari. Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam, dan makanan serta minuman yang dihidangkan sudah pada habis berpindah tempat ke perut dan sebagian lagi berpindah pada kotak-kotak kecil yang terbuat dari plastik untuk dibawa pulang.

Acara pun ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh salah satu anggota. Setelah doa ditutup maka satu perasatu dari kami berpamitan pulang.

 

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: