Monolog Butet Kartaradjasa “Sarimin”

Malam ini sambil ngotak-atik komputer aku melihta TV yang selalu setia menemani aku di sudut ruangan ini. Sekilas dengan lirikan mata aku melihat acara yang ada di Metro TV yang sedagn menampilkan acara monolog Butet Kartaradjasa “Sarimin”.

Sarimin adalah seorang tukang monyet keliling yang berumur 54 tahun. Sehari-harinya dia berkeliling dengan seekor monyetnya yang dirawat dari kecil. Tidak ada yang istimewa dari Sarimin, hanya kejujuran Sarimin mungkin itu yang istimewa. Cerita bermula ketika Sarimin yang buta huruf menemukan KTP. Karena Sarimin tidak bisa membaca maka Sarimin tidak mengetahui KTP siapa yang dia temukan. Karena Sarimin orang yang lugu, maka Sarimin melapor ke Polisi. Ketika KTP itu diserahkan ke Polisi Sarimin malah dibentak dan diinterogasi seperti penjahat. Kata Polisi itu KTP, KTP-nya pejabat. Dan Sarimin dipaksa untuk mengaku bahwa dia telah mencuri KTP tersebut. Tapi Sarimin tetap kukuh bahwa dia hanya menemukan KTP tersebut di Taman Lawang. Karena Sarimin membantah maka Sarimin dituduh telah menjatuhkan nama baik pejabat negara, selain itu dia dituduh memanfaatkan KTP tersebut untuk kepentingan pribadi karena Sarimin dianggap tidak lekas menyerahkan KTP tersebut, hal itu terbukti dengan KTP yang lecek. Akhirnya, dalam berkas acara ditulis oleh Polisi tersebut bahwa Sarimin telah melakukan banyak kesalahan (mencuri, menajatuhkan nama baik pejabat, menghina polisi (karena Sarimin bilang kalau dia tidak dilayani dengan baik di pos penjagaan), dan penyalahgunaan KTP). Sungguh malang nasib Sarimin.

Dalam tayangan tersebut juga di perlihatkan kalau polisi tersebut bersedia menghilangkan berkas acara tersebut sehingga tidak sampai ke pengadilan, asal Sarimin bersedia membayar 5 juta rupiah. Karena Sarimin tidak punya uang sejumlah itu akhirnya penawaran turun jadi 3 juta rupiah, ternyata Sarimin juga tidak punya uang segitu, maka penawaran turun jadi 2 juta rupiah kemudian turun lagi jadi lima ratus ribu dan turun lagi jadi seratus ribu, tai tetap saja Sarimin yang tukang topeng monyet keliling dan buta huruf itu tidak mempunyai sejumlah uang yang diminta polisi tersebut walaupun sampai pada penawaran terendah. Karena Polisi tersebut tidak mendapatkan biaya “ikhtiar” untuk menghilangkan berkas berita acara maka Polisi tersebut menyerahkan berita acara tersebut ke pengadilan dan sebelum di sidangkan Sarimin di penajara dengan status Tersangka.

Dalam masa tahanan sementara, Sarimin mendapat seorang pengacara dari negara. Ternyata pengacara tersebut juga sama busuknya dengan Polisi. Bukan membela Sarimin malah Sarimin di paksa juga untuk mengakui kesalahan tersebut. Pengacara itu bilang kalau dia ditugaskan untuk membuat Sarimin mengaku bahwa Sarimin telah mencuri KTP pejabat negara. Sarimin tetap kukuh bahwa dia hanya menemukan KTP tersebut.

Pada akhir tayangan diperlihatkan Sarimin disidang dan dinyatakan bersalah dan di hukum penjara.

Sungguh malang orang-orang seperti Sarimin, yang berbuat baik dan benar malah dianggap salah dan bersalah. Aku terhenyak dengan cerita tersebut, sungguh mengena dan sesuai sekali dengan kenyataan hukum yang ada di negara tercinta ini, Negara Indonesia. Dalam negara ini yang berlaku adalah KUHP (Kasih Uang Habis Perkara) dan yang menentukan adalah HAKIM (Hubungi Aku Kalau Ingin Menang). Sedangkan para aparat yang bertugas untuk melindungi masyarakat malah menjadi pemeras masyarakat.

Seperti yang aku alami dan membuat aku bertanya-tanya. Ketika aku membayar pajak kendaran di kantor SAMSAT, birokrasi sengaja dipersulit dan juga diminta sejumlah uang dengan alasan biaya administrasi. Apalagi kalau sudah berurusan dengan Bapak “Pemeras Jalan” POLANTAS, siap-siapkan saja dana “sumbangan” untuk pembuncitan perut mereka.

Huh…. muak aku dengan semua itu. Tidak atasan tidak bawahan semua sama saja, semua merupakan para penghisap darah rakyat terutama rakyat kecil yang seharusnya diperhatikan kesejahteraannya.

“Orang yang menyuap dan yang menerima suap, dua-duanya neraka”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: