Kena Tilang

Kena tilang lagi kena lagi… dasar…🙂

Enam kali aku kena tilang… hehehehe…… :)) Polisi lalu-lintas, kapankah mereka bertobat?

Pertama:

Aku kena tilang di daerah karawang, di ajalan antara kosambi dan tamelang. Waktu itu aku memang belum punya SIM, dan motor baru aja di pasang plat nomornya (alias motor baru). Sore aku masang plat nomor, paginya aku langsung ke tilang. aku ketilang karena aku tidak tahu kalau di area jalan tersebut setiap pagi, terutama pada hari libur (sabtu dan ahad) selalu ada razia gabungan code name “sarapan pagi”. Aku mengaku salah, karena aku memang belum punya SIM. Oleh seorang petugas polantas aku diminta uang Rp. 75.000,- bila ingin damai kemudian aku tawar Rp. 20.000,- tapi petugas tersebut menolak dan mnegancam akan menilang. aku bilang aja, “tilang aja”. jadi kena dech aku ditilang dengan ditahan STNK motor :)) du minggu kemudian aku pergi ke pengadilan negeri Karawang untuk menebus STNK, betapa terkejutnya aku, ternyata nama aku tidak ada dalam daftar orang yang ikut sidang. Aku sudah curiga kalau aku sedang dipermainkan. Maka aku test. Aku pura-pura bingung di depan papan pengumuman dan berdiri dengan tampang serius. Benar juga, tak berapa lama datang seorang yang menawarkan jasa kalau dia bisa mengambilkan STNK paling lama 30 menti ke kantor Polres dengan biaya Rp. 50.000,- aku pun membayar. tak berapa lama sekitar 10 menit (jarak antara pengadilan dan kantor polres kira-kira 10 menit bila ditempuh dengan kendaran bermotor dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam, jadi perlu waktu 20 menit + 5 menit = 25 menit untuk mengambil STNK) orangnya sudah datang dengan STNK motor di tangan. Tanya Kenapa???? Warning: Untuk pengurusan pengambilan SIM/STNK yang terkena tilang di Pengadilan Negeri Karawang, biasaya ada modus seperti yang saya alami (nama tidak terdaftar padahal tanggal dan jam sesuai yang tercantum pada surat tilang), atau nama terdaftar tapi SIM/STNK tidak berada di Pengadilan tapi di kantor Polres. dan untuk itu siap-siap aja merogoh kocek Rp. 35.000 – Rp. 50.000 untuk membuncitkan perut para mafia pengadilan tersebut.

Kedua:

Aku terkena tilang di bundaran monas, Jakarta Pusat. Dan Polisi tidak mau tawar-menawar. Adikku yang menebus ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan denda Rp. 22.500,-.

Ketiga:

Aku terkana tilang di Karawang lagi. Alasannya boncengan dengan memakai satu helm. Kalau yang ini razia gadungan “makan malam”. Para polantas tersebut minta Rp. 50.000,- untuk damai, aku tawar Rp. 20.000,- tapi polantas menolak dan aku pun kena tilang. Dalam kasus ini adikku yang mengurusi, tapi dia dipermainkan oleh para polantas dan mafianya. Adikku datang ke pengadilan, setelah ikut sidang ternyata STNK motor tidak ada di pengadilan maka adikku diminta untuk mengambil ke polres, setelah sampai polres adikku diminta dana Rp. 35.000,- adikku menolak dan ngotot mau ikut sidang lagi, maka masa tilang diperpanjang selama 2 minggu. Dua minggu kemudian ke Pengadilan dan semua lengkap (nama terdaftar dan STNK ada) kena denda Rp. 22.500,-.

Keempat:

Sebenarnya ini bukan kena tilang, tapi ini merupakan pembayaran secara terpakasa oleh temen aku. Ketika itu kami pergi touring ke 7 curug cilember di daerah cilember deket puncak, bogor. Ketika itu rombongan kami sedang konvoi dan sudah nyampe daerah bogor. Aku pada posisi di paling akhir pada rombongan. Pada waktu lewat lampu merah aku merasa kalau ketika aku lewat lampu masih kuning, tapi polantas menganggap kalau aku lewat pasa lampu merah. Ketika itu aku lagi ngobrol dan jalan santai sekitar 60 km/jam. Tiba – tiba dari belakang Bapak “pemeras jalanan” Polantas datang menghampiri dan menyetop aku. Setelah aku buka helm dia bilang klo aku telah melanggar lampu merah. kemudian aku diminta untuk menunjukkan surat-surat kelengkapan (SIM dan STNK), setelah di lihat sebentar sama Bapak “pemeras jalanan” polantas, dia kemudian pergi sambil bilang “ikut ke Pos”. Aku ikutin sampe Pos kecil di dekat perempatan yang ada lampu merahnya. Aku mengikutin polisi itu kedalam pos.

Didalam pos polantas tersebut bilang kalau aku telah melakukan dua pelanggaran yaitu melanggar lampu merah dan melewati garis batas. Masing-masing pelanggaran dendanya Rp. 75.000,-, jadi aku harus membayar Rp. 150.000,- untuk dua pelanggaran. Terang aja aku tidak sudi ngasih, mendingan aku di tilang saja. Selain itu alasan yang dibilang tidak masuk akal, namanya melanggar lampu merah pasti melanggar garis batas dan setahuku itu hal itu cuman satu pelanggaran. Tapi polantas tersebut ngotot kalau aku melakukan dua pelanggaran. dasar polantas yang memang sedang “memeras” ada saja alasannya, sepertinya dia tidak pernah berak ya. Orang berak pasti kecing, dan orang kencing belum tentu berak. Dengan alasan apapun yang dia bilang aku tetap tidak mau, dan aku juga hanya mau membayar 20 ribu untuk uang damai. Akhirnya harga diturunkan jadi 75 ribu saja, polantas bilang ini sebagai kemurahan hatinya. Hahahaha…. hueeeeeeeeeeeeeeeeek…………………. mual perut aku denger kata-kata itu keluar dari “pemeras jalanan”. Aku tetep kekeh dengan 20 ribu atau ditilang saja. Ketika negosiasi semakin panas seiring panasnya terik matahari di luar, tiba-tiba temen aku mengeluarkan uang 50 ribu lansung ditaruh di meja dan tanpa basa-bsai dia mengambil SIM dan STNK yang ada diatas meja kemudian menarik aku keluar dari pos “pemeras jalanan”. Aku meras berhutang pada temen aku itu sekaligus menambah image jelek pada polantas yang layak disebut PEMERAS JALANAN.

Kelima:

Yang kelima ini kasusnya gak jauh beda dengan kasus ketiga, boncengan dengan memakai satu helm. Hanya saja pada kasus ini ketika di pengadilan namaku terdaftar dan sudah ikut sidang. eh.. malah STNK ga ada di pengadilan, katanya masih di Polres. Adikku pun ke Polres dan di Polres diminta uang Rp. 35.000,-. adikku tidak mau membayar 35 ribu, karena dipengadilan cuman membayar 22.500. Karena tidak mau membayar akhirnya masa pengambilan di perpanjang dua minggu lagi. Sungguh tak berperasaa. Sudah capek dan meluangkan waktu tuk datang ke pengadilan malah tidak dihargai. Dasar buncit.

Keenam:

Yang ini terbilang unik. Ketika itu aku dan teman-teman pergi touring ke Sari Ater. Ketika sampai di Purwakarta ada jalan yang satu arah yaitu di jalan yang menuju Pasar Rebo bila datang dari arah kota purwakarta. Pemandu yang didepan lupa akan jalan tersebut yang satu arah dan rombongan dibawa masuk aja. Ketika melihat rambu satu arah mereka kaget dan ada yang berhenti mendadak, karena jarak mereka ada yang sangat dekat maka terjadi tabrak belakang. Mereka pada ribut untuk menolong korban dengan tidak menepi. Para penduduk setempat sudah memperingatkan untuk segera balik arah dan keluar dari jalur satu arah tersebut. Maka mereka pun segera balik arah dan menuju jalur normal. aku berada posisi paling belakang untuk memastika semua anggota rombongan keluar dari jalur satu arah. Ketika aku berhenti ditikungan tiba-tiba Bapak “Pemeras Jalanan” Polantas datang menghampiri dan meminta aku untuk menunjukkan surat-surat kelengkapan (SIM dan STNK). “Siapa lagi yang masuk jalur?”. “Tidak ada pak, cuman saya saja”. “Klo gitu kamu ikut saya!!!” makasaya pun mengikuti Polantas tersebut ke Pos Polantas yang berada di pertigaan Pasar Rebo. Dengan senyum srigala berbulu tikus, seorang Polantas penjaga pos menerima SIM dan STNK dari Polantas patroli tersebut. Di Pos terjadi perdebatan, teman aku yang satu motor minta damai, tapi polantas tersebut tidak mau dengan alasan kalau aku tidak memberi kesan yang baik pada awalnya. Memang begitu melihat Polantas tersebut membuka ballpoint dan membuka surat tilang aku langsung minta surat tilang yang berwarna biru dengan pembayaran di BRI. Karena permintaan aku tersebut dia merasa di rugikan dan tidak mau meluluskan permintaan teman aku “Eman” namanya. Yach akhirnya aku kena tilang lagi hehehehe… :)) Tapi aku merasa senang karena uang denda akan masuk ke Kas Negara.

Enam hari kemudian aku mengurus untuk mengambil SIM yang ditahan. aku pergi ke kantor BRI unit di Sadang. Ketika sampai di sana pukul setengah satu dan dipintu kantor tersebut tertulis Tutup. aku turun dari motor dan bertanya pada security, dia bilang para pegawai sedang istirhat dan akan buka lagi jam satu. Huh.. dasar… katanya mau melayani rakyat. Karena masih setengah jam lagi aku bersama teman pergi ke warung sebelah kantor Bank BRI unit tersebut untuk makan. Setelah selasai makan dan waktu menunjukkan pukul atu aku dan teman aku “Acil” namanya pergi ke Bank BRI tersebut. Eh ternyata masih tutup juga padahal didepan telah mengantri beberapa orang petani dan anak sekolah. Karena pintu tidak segera dibuka maka ada seorang petani yang mengetuk-ngetuk pintu dan ternyata usaha tersebut berhasil karena tidak berapa lama pintupun terbuka. Aku langsung masuk dengan urutan pertama dan langsung menuju kasa, eh.. ternyata kata kasa tidak bisa melayani pembayaran tilang yang bisa hanya Bank BRI Cabang. Maka aku diminta untuk membayar ke Bank BRI Cabang Purwakarta yang ada di Pasar Rebo. Aku segara kesana, dan ternyata sangat mudah untuk melakukan pembayaran. Setalah pembayaran selasai aku menerima surat tilang yang berwarna biru dan dua rangkap surat bukti pembayaran tilang. Setalah urusan pembayaran selasai aku pergi ke Polres Purwakarta untuk mengambil SIM. Hanya dengan menunjukkan surat tilang berwarna biru dan juga surat bukti pembayaran tilang dari Bank BRI tersebut SIM dapat aku ambil tanpa di pungut biaya sepeserpun. Lega aku…

Di bawah ini Diagram kepengurusan Surat Tilang

diagram1

Begitulah pengalaman aku dengan tilang.

3 Tanggapan to “Kena Tilang”

  1. Ane makin prihatin saja ulah para oknum polantas itu… Bir kata dinaekin gajinya berlipat-lipat, kayak-na kalo mentalitasnya kagak dibenerin, kebiasaan “malak”nya kagak bakalan lenyap..👿

    Ane alhamdulillah belum pernah kena tilang, tapi kalo mau ditilang sih sering juga…

    Eh.. pernah sekali di Buah Batu Bandung. Karena kagak punya SIM, ane diancem kena tilang, tapi akhirna “damai” dengan 20.000 perak. Habis ditilang, ane tanya siapa komandannya? Eh, ditunjukin juga. Terus ane datengin komandannya… “ngobrol” cukup lama… dan akhirna, uang ane diganti ama komandannya, buan 20.000, tapi 100.000 perak!!!:mrgreen:

    Yahhh, pemerasan harus dibales pemerasan… Makasih “kartu sakti”, berguna juga akhirnya punya kartu sakti…

  2. Kang Doel Says:

    Dari tahun 2008 ampe 2010 ini, ane udah kena tilang 6x. 5x di karawang, 1x di Cikarang.

  3. ga ada asap kalo ga ada api,,

    kalo masnya ga melakukan pelanggaran ya ga bakal kena tilang

    iya ga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: